Gimana Caranya Bersahabat Dengan Pemikiran ‘Radikal’ Kita?

Kita seringkali merasa bersalah tiap kali kepikiran hal-hal mendasar tentang apa yang kita hadapi atau jalanin sehari-hari. Contohnya, kita mungkin pernah kepikiran tentang “Tuhan itu beneran ada nggak sih?” atau “Kenapa kita harus menjalani ritual ibadah?”

 

Contoh yang lebih sederhananya bisa berkaitan sama kegiatan yang kita lakuin. “Kenapa sih kita harus pergi sekolah?” atau “Apa pentingnya sih belajar bahasa Indonesia di negara kita sendiri?” Sayangnya, kita lebih sering mendapat respon yang nggak baik tiap kali mempertanyakan hal-hal mendasar kayak gitu. Kalo kita pertanyakan itu ke orang tua, mereka malah cenderung bilang ke kita, “Yang kayak gitu kok ditanyain? Jalanin aja!”. Terlebih lagi kalo pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan kepercayaan atau adat istiadat. Kita bakal dibilang ‘dosa’ karena mempertanyakan hal-hal yang, lagi-lagi, harusnya cukup dijalanin tanpa harus dipertanyakan.

 

BERPIKIR RADIKAL ITU BUKAN HAL BURUK

Kalo pernah mempertanyakan hal-hal mendasar kayak gitu, jangan khawatir. Nggak ada yang salah dengan itu. Pertanyaan-pertanyaan dengan kata ‘kenapa’ atau ‘apa pentingnya’ adalah pertanda kalo kita punya cara berpikir radikal.

Eits, jangan dulu mengasosiasikan kata ‘radikal’ sama gerakan-gerakan tertentu, ya. Media-media massa emang membuat arti kata ‘radikal’ jadi terkesan sempit. Padahal, istilah ‘radikal’ itu luas maknanya. Menurut Kamus Oxford, radikal artinya (1) relating to or affecting the fundamental nature of something; far-reaching or thorough dan (2) Advocating or based on thorough or complete political or social change; representing or supporting an extreme or progressive section of a political party.

Nah, berpikir radikal artinya kita mencari tahu alias mengupas sesuatu hal sampai ke akar persoalannya. Berpikir radikal sebenernya merupakan salah-satu ciri berpikir filsafat. Tujuannya, mencari tahu esensi atau hakikat dari sesuatu hal, sehingga kita nggak lagi terjebak dan nerima beragam hal sebagai sesuatu yang harus kita terima begitu aja. There’s no such ‘taken for granted’ for people who think radically. Dengan mencari tahu esensi dari sesuatu hal, hal itu bakal jadi lebih bermakna bagi si pemikir. Pada akhirnya, si pemikir radikal pun jadi punya sikap terhadap hal-hal yang dia pertanyakan itu.

Karena termasuk salah satu ciri berpikir filsafat, radikal nggak berdiri sendiri. Supaya pemikiran radikal kita nggak salah arah, kita harus mengikutinya dengan sikap bebas, kritis, dan logis. Maksudnya, ketika kita tiba-tiba mempertanyakan hal-hal yang sifatnya mendasar, kita harus membebaskan pikiran kita dari prasangka orang lain. Kita juga nggak boleh percaya sama satu pernyataan tanpa cari tahu sudut pandang dan pernyataan lain. Dengan begitu, kita bakal bisa nyari ‘kebenaran’ logis yang kita butuhkan, bukan pembenaran atas prasangka-prasangka tertentu.

 

CARA BERSAHABAT DENGAN PEMIKIRAN RADIKAL KITA

Berpikir radikal itu sering bikin kita jadi serba salah. Mau ditanyain ke guru atau orang tua takut dibilang dosa. Mau dipendem, malah bikin kita makin penasaran. Ujung-ujungnya kita malah membiarkan pemikiran itu mengendap di kepala. Konsekuensinya, kita jadi menjalani sesuatu dengan perasaan mengawang-ngawang dan tanpa tahu tujuan. Terus kita harus gimana, dong?

 

1. CARI TAHU

Kunci nomor satu emang mencari tahu. Kalo orang-orang terdekat nggak suportif dengan rasa penasaran kita, kita cari tahu dengan cara lain. Tapi, khusus pertanyaan-pertanyaan mendasar kayak gini jangan tanya ke om Google, ya. Takutnya, jawaban dari pertanyaan kita malah muncul di blog-blog orang lain yang nggak jelas kredibilitas sumbernya. Kalopun mau tetep tanya ke Mbah Google, tanyakan judul-judul buku yang berkaitan sama rasa penasaran kita, ya! Kita bebas mau cari buku cetak atau versi e-booknya. Yakin deh, pasti ada aja kok buku yang berkaitan sama apa yang kita tanyain. Tapi, jangan asal pilih buku. Lihat juga siapa dan seberapa kredibel penulisnya.

 

2. CARI TEMAN DISKUSI

Cara lainnya, kita bisa cari temen buat diajak diskusi soal rasa penasaran kita. Kalo bisa, pilih temen yang punya rasa penasaran yang sama. Dengan begitu, kita juga bisa tahu sejauh mana proses pencarian dia. Siapa tahu dia udah baca beberapa judul buku yang berkaitan dengan rasa penasarannya. Jadi, kita bisa minta rekomendasi dan bahkan minjem buku-bukunya, deh. Terus, jangan cuma diskusi sama satu temen. Kita harus berpikiran terbuka dengan mendengar berbagai sudut pandang buat kita pertimbangin pendapatnya.

 

3. CARI MENTOR

Kalo kita nggak cukup percaya sama temen, kita bisa cari mentor buat dijadiin tempat bertanya. Mentor yang dimaksud di sini nggak harus guru atau dosen kita, kok. Yang penting, dia adalah orang yang kita nilai ‘lebih tahu’ atau ‘lebih berpengalaman daripada kita’ soal hal mendasar yang membuat kita penasaran. Kita bisa dapet mentor dengan berbagai cara. Pertama, kita bisa cari tahu lewat event kajian, seminar, atau public lecture yang berkaitan sama rasa penasaran kita. Kedua, ask a librarian or bibliophile. Tanyain rasa penasaran kita ke salah satu dari mereka. Mereka nggak bakal sekedar menjawab kita dengan perasaan dan opini, karena isi kepala mereka sering diisi referensi buku. Ketiga, sadar atau nggak, membaca buku yang tepat mengantarkan kita ke mentor yang tepat, yaitu penulisnya.

 

4. SADARI PERUBAHAN PEMIKIRAN

Dalam masa pencarian jawaban, kita harus sadarin perubahan apa yang kita rasain. Perubahan yang paling kerasa adalah cara pandang kita terhadap hal yang membuat kita penasaran. Seiring berubahnya cara pandang, tindakan dan sikap kita juga bakalan berubah. Kita jadi lebih paham esensi dari hal-hal yang membuat kita penasaran itu. Kita jadi tahu kenapa kita harus melakukan sesuatu, kenapa kita nggak boleh melakukan sesuatu, dan kenapa kita memilih apa yang kita pilih.

 

5. HADAPI PERUBAHAN PEMIKIRAN

Setelah kita sadar ada pemikiran dan sikap yang berubah, kita harus hadapi perubahan itu. Kita harus siap sama penilaian eksternal yang mungkin membuat kita down sama sikap yang kita pilih. Jangan takut. Mereka sama sekali nggak tahu seperti apa proses pencarian yang kita lakuin.

 

MUSUH BERPIKIR RADIKAL

Tahu nggak sih kalo musuh ‘berpikir radikal’ itu bukan penilaian dari orang lain? Sebenernya, musuh berpikir radikal adalah keseharian kita sendiri. Kita seringkali terjebak sama rutinitas, sehingga lupa mempertanyakan hal-hal esensial dalam hidup. Rutinitas membuat kita cenderung menerima beberapa hal sebagai sesuatu yang taken for granted.

Eh, ketika kita mulai mempertanyakan hal-hal mendasar, kita malah berhadapan sama musuh kedua: kemalasan. Kemalasan membuat kita nggak dapet jawaban dari rasa penasaran. Kemalasan juga membuat kita nggak ketemu sama kebenaran yang kita butuhin. Coba deh kita renungin, dari step-step yang dijelasin sebelumnya, ada berapa poin yang udah kita lakuin?